Thursday, June 16, 2011

PESONA JAILOLO HALMAHERA BARAT INDONESIA

jailolo gulf festival 500x320 2010 Jailolo Gulf Festival, West Halmahera Region

Membuka Pesona Jailolo


Menyusuri tiap jengkal wilayah negara ini tidak akan pernah habis rasa kagum dan penasarannya. Keindahan tiap pulau, kekayaan budaya dan keunikan masyarakatnya memiliki sisi tersendiri. Keberagaman yang muncul ditiap wilayah mampu menunjukkan kebhinnekaan sesungguhnya.
Salah satu pesona dari belahan bumi Halmahera adalah kota Jailolo yang  merupakan  Ibukota Halmahera Barat, untuk mencapai tempat tersebut harus menempuh perjalanan 1 jam dari Pelabuhan Dufa-Dufa Kota ternate dengan Speed Bout.
Jailolo memiliki keindahan alam yang dapat dinikmati dari kaki Gunung Jailolo serta pelabuhan Jailolo. Penduduk Asli Jailolo terdiri berbagai suku diantaranya Suku Sahu, Ternate, Wayoli, Gorep, Loloda. Suku lain dari luar daerah yang tinggal di Jailolo seperti Suku Ambon, Sangir, Tidore, Gorontalo, Makasar, Jawa dll. Di Jailolo terdapat Suku Asli yaitu; Suku Wayoli, dalam Suku Wayoli ada pembagian kampung  yaitu Soa Tugu ke 1, Soa Tilingi ke 2, Soa Dubu’u ke 3, Soa Rou-rou ke 4, Soa Tosoa ke 5.


Tiap desa memiliki perbedaan dalam menentukan kepala adat, pemimpin adat, upacara tradisi selesai panen. Dalam desa Lolori mempunyai Kepala Adat, serta Dewan Adat dan kepala adat ini tidak dipilih oleh masyarakat ini, Kepala adat harus dari garis keturunan. Desa Tolosa penduduknya 100 % Kristen, sedangkan Desa Tondowongi Kristen dan Islam. Hal yang sama adalah dalam desa tersebut perempuan tidak diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin.
Masyarakat Jailolo masih menjaga dan menjalankan adat serta tradisi seperti upacara makan bersama di rumah adat (Rumah adat dalam bahasa Jailolo disebut Sasadu),upacara ini diadakan pada bulan Mei dan Juni dan dengan tarian serta lagu tradisonal. Salah satu jenis tarian yang muncul adalah Tarian Legu Salau yang disajikan pada saat upacara adat.
Walaupun Penduduk Jailolo tinggal di Pasisir pantai tapi mata pencarian utama Penduduk Jailolo adalah petani, hasil pertanian yg diunggulkan adalah Pala, Cengkih dan Kopra. Setiap desa penduduk menanam pohon lemon(Jeruk) Cui, dengan warna kuning-kuning, menandai lemom ini sudah saatnya di panen, tapi karena harganya murah maka masyarakat membiarkan lemon Cui dipohon saja.
Memasuki desa Mutui yang harus ditempuh menggunakan Katinting selama 30 menit dari Jailolo, akan menemukan penduduk desa Mutui yang berjumlah 80 Kepala Keluarga, mereka memeluk agama Islam. Hasil perkebunan masyarakat desa Mutui adalah Pala, Cengkih dan Kopra, dari ketiga macam hasil ini yang paling di unggulkan adalah Pala, karena harga jualnya sangat mahal(Bunga Pala /kg Rp 100.000 dan Biji Pala /kg 70.000).


Selain itu terdapat Desa Susupu jarak tempuh 45 menit dari pusat Kota Halmahera Barat,dengan menggunakan mobil pribadi. Desa ini mempunyai Objek wisata pantai, dan sudah ada beberapa fasilitas yang di bangun pemerintan setempat dan propinsi, tapi sekarang fasilitasnya sudah tidak terurus lagi.
Desa berkitnya adalah Gamalamo (Gama artinya Kampung dan Lamo artinya Besar), Jumlah Penduduk di desa Gamalamo 100 Kepala Keluarga dan mayoritas penduduk beragama Kristen. Selain itu terdapat juga desa Lolori.
Desa yang lebih maju yaitu Desa Akediri, desa ini sudah terdapat  fasilitas pasar yang cukup bagus dan maju. Rumah Adat di desa ini berada di samping Pasar (Lokasi rumah adat berada di pusat keramaian desa Akediri). Rumah adat ini dibangun sesudah kerusuhan di Ternate, dan dirumah adat ini masyarakat berkumpul dan bermusyawara, untuk hidup kembali rukun dan damai, dan siap menjaga keamanan dan ketertiban desa Akediri.


Menyusuri keindahan Jailolo dan kehidupan masyarakat disana, tak lengkap jika tidak mengunjungi Halmahera utara. Hamahera Utara masih ada masyarakat adat yang penganut agama suku atau agama Wago Ngira yang bertempat tinggal di Desa Wago Ngira (Wago artinya Matahari dan Ngira Bumi). Penduduk Wago Ngira berjumlah 200 jiwa, ini sesuai dengan hasil sensus tahun 2010. Masyarakat Wago Ngira memakai pakaian dari anyaman daun pandan, dan hanya dipakai beberapa hari saja, lalu dibuang di diganti lagi.
Prinsip hidup agama suku ini sangat unik karena mereka tidak peduli dengan kehidupan di luar komunitasnya, menurut mereka lebih baik mengalah daripada menghadapi masalah dengan dunia diluar mereka. Sebagai contoh jika ada tamu berkunjung atau nginap akan disediakan tempat yang terpisah dari tempat mereka beraktifitas, serta mereka akan menyiapkan bahan baku makanan, yang harus dimasak oleh tamu itu sendiri.
Masyarakat Wago Ngira memegang adat yang kuat untuk bersatu dengan alam hingga jalan-jalan didesa tersebut tidak diaspal, jadi jarak 4 kilo meter itu hanya jalan setapak, menurut adat mereka aspal adalah buatan luar adat mereka.
Ritual adat yang di Desa Wago Ngira ini akan diadakan pada bulan Juli atau Agustus, yaitu ritual adat 25 Tahun sekali menurut perhitungan mereka, jadi dalam ritual adat ini mereka akan mengevaluasi kehidupan mereka selama 25 tahun. Contohnya  kalau semasa hidup 25 yang lalu dia sudah membuat baju dari daun pandan atau dia sudah masak makanan, dan saat perayaan ritual adat ini, dia harus sediakan semua yang sudah dia kerjakan 25 tahun lalu, jadi tidak pandang bulu, anak-anak juga harus melaksanakan itu.

Situs Budaya Benteng Taluko dan Nostre Senora De Rosario


Benteng Toluko adalah Benteng pertama yang didirikan bangsa Portugis. Benteng Toluko dibangun oleh Bangsa Portugis pada tahun 1512, dengan nama Benteng Santo Lukas. Benteng ini dipakai untuk mengintai musuh yang akan datang ke Ternate. Setelah Belanda menduduki Ternate, Maka Belanda merenovasi Benten ini dan Belanda menganti nama Benteng ini  dengan nama Benteng Toluko, nama Toluko adalah nama Sultan Ternate yang berkuasa pada saat zaman Belanda.
Mengunjungi Benteng Nostra De Rosaria, tapi Benteng ini lebih di kenal orang dengan nama Benteng Castela, Benteng ini di bangun Bangsa Portugis di desa Kota Jadi. Di atas pintu masuk benteng ini ada Tulisan Jao se ngofa Ngane yang artinya Keturunan Raja, dan ada lambang burung berkepala 2 yang menghadap ke kiri dan ke kanan, dan sayapnya terurai kebawa, dan burung ini adalah burung kesultanan, filosofi dari kepala burung ini adalah kita harus melihat kekiri dan kekanan, jadi tidak boleh melihat satu sisi saja, dan sayapnya adalah Raya itu harus melindung seluruh Rakyatnya.

Festival Jailolo


Keindahan Jailolo memang belum diketahui oleh masyarakat umum, untuk itulah pada tanggal 26 Mei – 01 Juni 2010 dilaksanakan Festival Jailolo. Dalam festival ini dipentaskan berbagai kesenian khas daerah yang diikuti oleh beberapa group, antara lain ; group Argetos Tarian Yanger dari Desa Tosoa, group Agape dari Desa Todowongi, group Fakati Nyinga dari Sekretariat DPRD Jailolo, group Ayasari dari Desa Akediri, group Todoreba dari Desa Todoreba Sungi. Keunikan festival ini peserta menggunakan pakaian adat dan alat musik tifa.
Dalam Pentas Seni dan Budaya dipentaskan Tarian Side-side dari beberapa desa dan penarinya anak-anak Sekolah Dasar  laki-laki dan Perempuan, Tarian Yangger dari desa Jalan Baru, Gamalamo, Payo Tarian Legu Salau dari desa Kamomeng dan Tuada.
Selain panggung musik, digelar juga lomba Lomba Renang  di Teluk Jailolo, Lomba ini di buka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad didampingi Bupati Halmahera Barat Namto Hoy Roba dan Icon Diving Nasional Nadine Candrawinata. Jumlah peserta 400 org (395 Laki-Laki org dan 5 org perempuan) dengan Jaraktempuh  300 meter. Peserta yang masuk garis finísh 80 orang termasuk 2 orang perempuan.


Selain itu digelar juga Diving dan Snorckling di Teluk Jailolo, dan jarak dari pelabuhan tempuh ke lokasi 30 menit naik dengan menggunakan speed bout. Acara ini di buka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad didampingi Bupati Halmahera Barat Namto Hoy Roba dan Icon Diving Nasional Nadine Candrawinata. Peserta Diving dan Snorckling 150 orang dari nasional dan Internasional. Peserta Nasional dari Lampung, Jakarta, Bandung, Bogor, Manado dan Ternate. Peserta Internasional : Kanada, Norwegia, Singapure, Belanda dan Amerika.
Jailolo merupakan daerah yang masih menjunjung tinggi adat, kebudayaan dan keberagaman. Keberagaman yang tercermin dari berbagai agama dan kepercayaan yang berkembang ditengah kehidupan masyarakat Jalilolo merupakan kekayaan bangsa Indonesia. Sudah selayaknya kita menjaga dan melestarikan semua itu, termasuk situs budaya warisan kekayaan bangsa ini.

Sumber : http://anbti.org/content/menyusuri-pesona-jailolo-halmahera-barat

No comments:

Post a Comment