Sunday, July 3, 2011

PANAHAN KASUMEDANGAN - KEBIASAAN MASYARAKAT SUMEDANG INDONESIA

Kampung Cimanglit, di Desa Pasir Biru Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Di kampung inilah, kebiasaan memanah masyarakatnya sejak masa Kerajaan Sumedang Larang, masih tersisa.
Bahkan kini sudah tidak lagi hanya sebagai senjata berburu dan berperang. Panahan di Kampung Cimanglit, telah menjadi olah raga tradisional. Panahan Kasumedangan, namanya.
Tumbuh suburnya pepohonan bambu di desa kampung ini, membuat masyarakatnya tak sulit mencari bahan baku pembuat panah. Namun dari 13 jenis bambu yang banyak tumbuh di sini, hanya bambu bitunglah yang dianggap terbaik untuk membuat panah. Bambu bitung memang memiliki karakter yang khas, yang cocok untuk dijadikan panah. Ia amat tebal, kuat dan keras.
Dan hanya batang bambu bitung yang menghadap ke timurlah yang dipilih. Cukup beralasan, karena batang bambu yang tumbuh ke timurlah yang mendapat sinar matahari lebih banyak, sehingga menjadikannya lebih baik.
Di kampung ini, tak sembarang waktu mereka dapat menanam dan menebang pohon bambu, sebagai awalan membuat panah. Tanggal 1 Muharam, dianggap sebagai hari yang tepat untuk itu.
Sikap hidup yang religius dan menghormati leluhur, amat terasa di sini. Sebelum menebang bambu bitung yang semakin sulit didapat ini, mereka melaksanakan ritual khusus. Batang-batang bambu terpilih, dipotong sesuai kebutuhan. Agar kering, bambu inipun dibakar.
Untuk menjadikannya sebagai anak panah, bambu ini dipotong tipis. Serutan tangan ahli pembuat anak panah ini, menjadikan anak panah memiliki nilai lain. Di bagian ujungnya ditempelkan lembengan besi, untuk dapat membus sasaran.
Yang cukup penting pada sebuah anak panah, adalah bulu. Bagian inilah yang akan menentukan lajunya anak panah. Bulu burung elanglah yang dianggap paling klop untuk itu. Namun karena sulit didapat, maka bulu ayam atau bulu angsapun, jadilah.
Tiga helai bulu menempel di anak panah. Satu menghadap ke atas, sementara dua lainnya, berada di bagian tepi. Posisi bulu ini akan membuat anak panah melesat lurus ke depan, tak berbelok, belok.
Tak hanya anak panah, busurnyapun mereka buat sendiri, dari 2 bilah bambu. Busur telah siap. Anak panah telah pula terpasang. Artinya, lomba memanah tradisional ala Sumedang, panahan Kasumedangan, siap dimulai.
Beruntung, cuaca saat itu cerah. Para peserta, lengkap mengenakan atribut hitam. Masing-masing membawa anak panah dan busur andalannya, seraya berharap, hari itu menjadi hari keberuntungan mereka.
Masing-masing anak panah telah ditandai. Ini penting, karena 50 peserta akan mengincar sasaran yang sama. Alunan suara angklung jengklung telah terdengar. Seolah dikomando, para pesertapun bergerak mengikuti iramanya. Mereka ngibing. Cair sudah, ketegangan peserta.
Panah pusaka Sumedang Larang kini berada di tangan Pupuhu, sesepuh Sumedang Larang. Panah kabuyutan ini menjadi simbol kehadiran leluhur di tengah mereka.
Kedua panah pusaka ditancapkan di atas hiasan dari janur. Selubung sasaran telah dibuka. Tampak patung Dasamuka, yang menjadi musuh masyarakat, berada 50 meter dari tempat duduk para pemanah.
Dasamuka inilah yang harus dibidik. Kepala menjadi sasaran utama, dengan nilai 9, bila tepat mengenainya. Dada dan perut, masing-masing bernilai 7 dan 5. Angota tubuh lainnya, hanya bernilai 1.
Manah, dalam bahasa Sunda, sering diartikan, hati. Maknanya adalah, untuk memanah, amat diperlukan hati yang bersih.
Mereka yang berhati bersih inilah, yang akan mampu menancapkan anak panahnya di kepala Dasamuka

No comments:

Post a Comment