Sunday, July 3, 2011

TRADSI YAQOWIYU - TRADISI MASYARAKAT KLATEN - JAWA TENGAH INDONESIA


Sebuah tradisi yang masih dilestarikan masyarakat di daerah Jatinom, Klaten, Jawa Tengah adalah Yaqowiyu. Inti acara sebenarnya adalah peringatan haul Ki Ageng Gribig, tokoh penyebar islam di wilayah itu. Tetapi yang akhirnya menjadi semacam ikon kegiatan ini adalah ritual penyebaran kue apem dan diperebutkan oleh pengunjung yang hadir. Acara ini diadakan tiap tahun tepatnya pada hari Jumat yang paling dekat dengan tanggal 15 bulan Shafar pada penanggalan Hijriah.
Tahun ini peringatan tersebut berlangsung hari Jumat (22/02) kemarin. Rangkaian acaranya diawali dengan nyekar ke makam Ki Ageng Gribig dan dilanjutkan dengan pengajian di Masjid Gedhe peninggalan sang kyai pada hari Kamis sebelumnya. Puncak acara dimulai dengan shalat Jumat bersama di Masjid Gedhe. Selesai jumatan, gunungan lanang,dikenal dengan nama Ki Kiyat, dan gunungan wadon, dikenal dengan nama Nyi Kiyat, yang telah disemayamkan semalam di dekat masjid, diarak menuruni tangga menuju panggung di lapangan Sendang Plampeyan (tanah lapang di pinggir Kali Soka, di selatan masjid dan makam Ki Ageng Gribig).
Arak-arakan terdiri dari peraga Ki Ageng Gribig, Bupati, Muspida, kedua gunungan, putri domas, dan para pengawal. Kemudian peraga Ki Ageng Gribig memimpin doa bersama. Selanjutnya, dia menyerahkan apem yang ditempatkan dalam panjang ilang (keranjang terbuat dari janur) kepada Bupati Klaten. Bupati mengawali upacara penyebaran dengan melempar apem dalam panjang ilang kepada pengunjung. Kemudian, petugas penyebar yang berada di dua menara segera mengikutinya dengan melemparkan ribuan apem. Ribuan pengunjung pun tanpa dikomando berebut apem, bahkan sampai terinjak kakinya atau bertabrakan gara-gara ingin menangkap apem. Suasana rebutan apem benar-benar meriah. Dalam waktu singkat 4 ton apem sumbangan dari para warga sekitar habis tak tersisa.
Kata embahnya konon, asal muasal event heboh ini adalah saat sang kyai pulang dari tanah suci membawa oleh-oleh kue apem yang ternyata sampai rumah masih hangat. Para santri pun berebut mendapatkan oleh-oleh tersebut. Karena tidak cukup, maka Nyi Ageng Gribig membuat apem lagi sekaligus untuk dibagikan kepada penduduk Jatinom. Sejak itu orang daerah ini ikutan membuat apem untuk selamatan. Menjaga tradisi sekaligus sebagai ungkapan berbagi pada sesama.

No comments:

Post a Comment